Jumat, 12 Desember 2014

Bagian Pokok Organ Tumbuhan

3 BAGIAN POKOK TUMBUHAN

Landasan Teori  
 Pada dasarnya tubuh tumbuh-tumbuhan tersusun atas 3 bagian pokok, yaitu akar (Radix), batang (Caulis), dan daun (Folium). Tumbuh-tumbuhan yang memperlihatkan diferensiasi dalam 3 bagian pokok tersebut dikelompokkan dalam kelompok Cormophyta (tumbuhan kormus). Kormus adalah tubuh tumbuh-tumbuhan yang hanya dimiliki oleh Pteridophyta (tumbuhan paku) dan Spermatophyta (tumbuhan biji). Bagian lain dari tubuh tumbuhan dapat dipandang sebagai penjelmaan dari salah satu atau dua bagian pokok tersebut yang telah mengalami perubahan bentuk, sifat, atau fungsi, contoh : bunga (Flos), dianggap sebagai penjelmaan batang maupun daun; umbi (Tuber) penjelmaan batang; rimpang (Rhizoma) penjelmaan batang; umbi lapis (Bilbus) penjelmaan batang dan daun[1]

DAUN
Ada 3 ciri daun yang penting, yaitu tipis melebar, berwarna hijau, dan duduk pada batang dengan posisi menghadap keatas (kearah sinar matahari). Ciri-ciri / sifat tersebut sesuai dengan fungsi daun bagi tumbuhan, yaitu sebagai alat untuk : pengolahan zat-zat makanan (assimilasi); penguapan air (transpirasi); pernapasan (respirasi), gutasi. Bagian batang tempat duduknya daun dinamakan buku-buku (nodus batang). Tempat diatas daun yang merupakan sudut antara batang dan daun dinamakan ketiak daun (Axilla). Daun lengkap mempunyai 3 bagian pokok yaitu : upih daun atau pelepah daun (Vagina); tangkai daun (Petiolus); helaian daun (Lamina). Pada umumnya tumbuhan mempunyai daun yang kehilangan satu atau dua bagian dari tiga bagian tersebut. Daun yang demikian dinamakan daun tidak lengkap.

BATANG
Batang pada dasarnya terdiri dari buku-buku batang (Nodus), dan bagian antara dua buku batang disebut ruas (Internodus).
Sebagai bagian tubuh tumbuhan, batang mempunyai fungsi untuk :
(a) mendukung bagian-bagian tumbuhan yang ada diatas tanah, yaitu : daun,   bunga, buah;
(b) dengan percabangannya memperluas bidang asimilasi;
(c) jalan pengangkutan air dan zat-zat makanan dari bawah ke atas dan jalan pengangkutan hasil¬hasil asimilasi dari atas ke bawah;
(d) menjadi tempat penyimpanan zat-zat makanan cadangan.

AKAR
Akar adalah bagian pokok ketiga setelah daun dan batang. Akar tidak berbuku-buku, tidak beruas, dan tidak mendukung daun-daun. Pertumbuhannya umumnya mengarah ke pusat bumi (Geotrop) atau menuju ke air (Hidrotrop); namun adapula bagian akar yang tumbuh lateral atau menjauhi pusat bumi;  warnanya biasanya keputih-putihan atau kekuning-kuningan. Bentuk akar seringkali meruncing sehingga lebih mudah untuk menembus tanah.
Akar umumnya terdiri dari bagian-bagian :
a.  Leher akar atau pangkal akar (Collum), yaitu bagian akar yang bersambungan dengan pangkal, batang;
b. Ujung akar (Apex Radicis), bagian akar yang paling muda, terdiri atas jaringan jaringan yang masih dapat mengadakan pertumbuhan;
c.    Batang akar (Corpus Radicis), bagian akar yang terdapat antara leher akar dan ujungnya;
d.   Cabang-cabang akar (Radix Lateralis), yaitu bagian akar yang tidak langsung bersambungan dengan pangkal batang, tetapi keluar dari akar pokok, dan masing-masing dapat mengadakan percabangan lagi;
e.    Serabut akar (Fibrilla Radicalis), cabang-cabang akar yang halus dan berbentuk serabut;
f.  Rambut-rambut akar atau bulu-bulu akar (Pilus Radicalis), merupakan tonjolan sel epidermis yang berfungsi untuk memperluas daerah penyerapan akar, sehingga lebih banyak air dan unsur hara yang dapat diserap. Pada tumbuhan air jarang dijumpai adanya rambut akar;
g. Tudung akar (Calyptra), bagian akar yang letaknya paling ujung, terdiri atas jaringan yang berguna untuk melindungi ujung akar yang masih muda dan lemah. [2]
Ada 2 macam sistem perakaran, yaitu :
1.Sistem akar tunggang
Jika akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil. Akar pokok yang berasal dari akar lembaga disebut akar tunggang (Radix Primaria). Susunan akar yang demikian biasa terdapat pada tumbuhan biji belah (Dicotyledoneae) dan tumbuhan biji telanjang (Gymnospermae).
2.Sistem akar serabut
Jika akar lembaga dalam perkembangan selanjutnya mati atau kemudian disusul oleh sejumlah akar yang kurang lebih sama besar dan semuanya keluar dari pangkal batang. Akar-akar ini karena bukan berasal dari calon akar yang asli dan bentuknya seperti serabut dinamakan akar serabut (Radix Adventicia).
Perlu diingat, bahwa akar tunggang hanya kita jumpai kalau tumbuhan ditanam dari biji. Walaupun dari golongan biji belah (Dicotyledoneae), suatu tumbuhan tak akan mempunyai akar tunggang jika tidak ditanam dari biji, seperti misalnya berbagai jenis tanaman budidaya yang diperbanyak dengan cangkokan atau turusan (stek).

BUNGA (Flos)
Merupakan alat reproduksi seksual yang akan menghasilkan buah,. Secara umum bagian-bagian dari bunga adalah :
tangkai bunga (Pedicellus)
daun kelopak (Sepala)
daun mahkota (Petala)
benang sari (Stamen), terdiri dari :
1)      kepala sari (Anthera)
2)      tangkai sari (Filamen)
putik (Pistilum); terdiri dari :
1)      kepala putik (Stigma)
2)      tangkai putik (Stilus)
3)      bakal buah (Ovarium)
4)      bakal biji (Ovulum) [3]

[1] Susetyoadi Setjo.Anatomi Tumbuhan, (Malang 2004).h.56
[2] Sumadi issirep, pudjoarinto Agus,(Struktur Dan Perkembangan Tumbuhan, Yogyakarta : Universitas Gajah Mada1992).h.143
[3] Tjitro Soepomo, Gembong.. (Morfologi Tumbuhan, Yogyakarta : Gajah Mada University 2005).h.55.

Bidang-bidang matematika

Disiplin-disiplin utama di dalam matematika pertama muncul karena kebutuhan akan perhitungan di dalam perdagangan, untuk memahami hubungan antarbilangan, untuk mengukur tanah, dan untuk meramal peristiwa astronomi. Empat kebutuhan ini secara kasar dapat dikaitkan dengan pembagian-pembagian kasar matematika ke dalam pengkajian besaran, struktur, ruang, dan perubahan (yakni aritmetika, aljabar, geometri, dan analisis). Selain pokok bahasan itu, juga terdapat pembagian-pembagian yang dipersembahkan untuk pranala-pranala penggalian dari jantung matematika ke lapangan-lapangan lain: ke logika, ke teori himpunan (dasar), ke matematika empirik dari aneka macam ilmu pengetahuan (matematika terapan), dan yang lebih baru adalah ke pengkajian kaku akan ketakpastian.

Besaran
Pengkajian besaran dimulakan dengan bilangan, pertama bilangan asli dan bilangan bulat ("semua bilangan") dan operasi aritmetika di ruang bilangan itu, yang dipersifatkan di dalam aritmetika. Sifat-sifat yang lebih dalam dari bilangan bulat dikaji di dalam teori bilangan, dari mana datangnya hasil-hasil popular seperti Teorema Terakhir Fermat. Teori bilangan juga memegang dua masalah tak terpecahkan: konjektur prima kembar dan konjektur Goldbach.


Karena sistem bilangan dikembangkan lebih jauh, bilangan bulat diakui sebagai himpunan bagian dari bilangan rasional ("pecahan"). Sementara bilangan pecahan berada di dalam bilangan real, yang dipakai untuk menyajikan besaran-besaran kontinu. Bilangan real diperumum menjadi bilangan kompleks. Inilah langkah pertama dari jenjang bilangan yang beranjak menyertakan kuarternion dan oktonion. Perhatian terhadap bilangan asli juga mengarah pada bilangan transfinit, yang memformalkan konsep pencacahan ketakhinggaan. Wilayah lain pengkajian ini adalah ukuran, yang mengarah pada bilangan kardinal dan kemudian pada konsepsi ketakhinggaan lainnya: bilangan aleph, yang memungkinkan perbandingan bermakna tentang ukuran himpunan-himpunan besar ketakhinggaan.


Bilangan asli

Bilangan bulat

Bilangan rasional

Bilangan real

Bilangan kompleks


  2.   Ruang
Pengkajian ruang bermula dengan geometri – khususnya, geometri euclid. Trigonometri memadukan ruang dan bilangan, dan mencakupi Teorema pitagoras yang terkenal. Pengkajian modern tentang ruang memperumum gagasan-gagasan ini untuk menyertakan geometri berdimensi lebih tinggi, geometri tak-euclid (yang berperan penting di dalam relativitas umum) dan topologi. Besaran dan ruang berperan penting di dalam geometri analitik, geometri diferensial, dan geometri aljabar. Di dalam geometri diferensial terdapat konsep-konsep buntelan serat dan kalkulus lipatan.

Di dalam geometri aljabar terdapat penjelasan objek-objek geometri sebagai himpunan penyelesaian persamaan polinom, memadukan konsep-konsep besaran dan ruang, dan juga pengkajian grup topologi, yang memadukan struktur dan ruang. Grup lie biasa dipakai untuk mengkaji ruang, struktur, dan perubahan. Topologi di dalam banyak percabangannya mungkin menjadi wilayah pertumbuhan terbesar di dalam matematika abad ke-20, dan menyertakan konjektur poincaré yang telah lama ada dan teorema empat warna, yang hanya "berhasil" dibuktikan dengan komputer, dan belum pernah dibuktikan oleh manusia secara manual.

Banyak objek matematika, semisal himpunan bilangan dan fungsi, memamerkan struktur bagian dalam. Sifat-sifat struktural objek-objek ini diselidiki di dalam pengkajian grup, gelanggang, lapangan dan sistem abstrak lainnya, yang mereka sendiri adalah objek juga. Ini adalah lapangan aljabar abstrak. Sebuah konsep penting di sini yakni vektor, diperumum menjadi ruang vektor, dan dikaji di dalam aljabar linear. Pengkajian vektor memadukan tiga wilayah dasar matematika: besaran, struktur, dan ruang. Kalkulus vektor memperluas lapangan itu ke dalam wilayah dasar keempat, yakni perubahan. Kalkulus tensor mengkaji kesetangkupan dan perilaku vektor yang dirotasi. Sejumlah masalah kuno tentang Kompas dan konstruksi garis lurus akhirnya terpecahkan oleh Teori galois.

    3.   Struktur
Banyak objek matematika, semisal himpunan bilangan dan fungsi, memamerkan struktur bagian dalam. Sifat-sifat struktural objek-objek ini diselidiki di dalam pengkajian grup, gelanggang, lapangan dan sistem abstrak lainnya, yang mereka sendiri adalah objek juga. Ini adalah lapangan aljabar abstrak. Sebuah konsep penting di sini yakni vektor, diperumum menjadi ruang vektor, dan dikaji di dalam aljabar linear. Pengkajian vektor memadukan tiga wilayah dasar matematika: besaran, struktur, dan ruang. Kalkulus vektor memperluas lapangan itu ke dalam wilayah dasar keempat, yakni perubahan. Kalkulus tensor mengkaji kesetangkupan dan perilaku vektor yang dirotasi. Sejumlah masalah kuno tentang Kompas dan konstruksi garis lurus akhirnya terpecahkan oleh Teori galois.

Definisi dan Jenis-Jenis Bilangan

Definisi Bilangan
     Bilangan merupakan suatu konsep dalam matematika yang digunakan untuk menyatakan nilai suatu satuan. Untuk menyatakan nilai satuan tersebut, digunakanlah lambang bilangan berbentuk tulisan yang disebut angka (yaitu 0,1,2,3,4,5,6,7,8, dan 9). Angka-angka ini tidak memiliki nilai satuan apapun (berbeda dengan bilangan, yang telah memiliki nilai satuan).
     Sehingga dapat disimpulkan bahwa bilangan adalah sekumpulan angka-angka (satu atau lebih), yang telah memiliki nilai satuan tertentu.

Jenis-Jenis Bilangan
Bilangan terdiri atas beberapa jenis sebagai berikut:
-Bilangan Kompleks:
        -Bilangan Imajiner
        -Bilangan Real:
                -Bilangan Irrasional
                -Bilangan Rasional:
                        -Bilangan Pecahan
                        -Bilangan Bulat:
                                -Bilangan Negatif
                                -Bilangan Cacah:
                                        -Bilangan Nol
                                        -Bilangan Asli:
                                                -Bilangan Ganjil
                                                -Bilangan Genap
                                                -Bilangan Prima
                                                -Bilangan Komposit


Bilangan Kompleks adalah bilangan yang memiliki format a + bi, dengan a dan b adalah bilangan real, dan i adalah bilangan imajiner. Bilangan kompleks biasanya disimbolkan dengan lambang C. Contoh: 4 + 7i, dengan i adalah bilangan imajiner.

Bilangan Imajiner adalah bilangan yang berbentuk sqrt -1 (sqrt = square root / akar kuadrat). Atau dengan kata lain, jika bilangan ini dikuadratkan, akan menghasilkan -1 (i^2 = -1 dengan ^ adalah pangkat). Bilangan ini dikatakan imajiner, karena bilangan ini sebenarnya tidak ada (hanya khayalan) atau tidak dapat dijelaskan secara nyata keberadaannya.

Bilangan Real adalah bilangan yang dapat dituliskan dalam bentuk desimal. Bilangan ini terdiri dari bilangan rasional dan bilangan irrasional. Bilangan real, umumnya disimbolkan dengan lambang R. Contoh: 3 ; 3,141455 ; 47,2013.

Bilangan Rasional adalah bilangan yang dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan (perbandingan). Yaitu dinyatakan dalam bentuk a/b dengan a dan b adalah bilangan bulat dan b tidak sama dengan nol. Bilangan rasional umumnya dinyatakan dalam simbol Q. Contoh: 5 ; 2,121212 ; 4/7.

Bilangan Irrasional adalah bilangan yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk perbandingan (pecahan). Contoh: phi (3,1415926...), sqrt 2, bilangan Euller (e = 2,7182818...).

Bilangan Pecahan adalah bilangan rasional yang tidak bulat. Contoh: 1/2, 2/5, 2012/2013.

Bilangan Bulat dilambangkan dengan simbol Z. Contoh: -3,-2,-1,0,1,2,3.

Bilangan Negatif adalah bilangan real yang nilainya dibawah nol. Contoh: -1,-2,-3,-5.

Bilangan Cacah adalah bilangan bulat tak negatif. Bilangan ini dimulai dari 0,1,2,3,4,dst.

Bilangan Nol adalah 0.

Bilangan Asli adalah bilangan bulat positif. Bilangan asli disebut juga bilangan hitung. Bilangan ini disimbolkan dengan lambang N. Dimulai dari 1,2,3,4,5,dst.

Bilangan Ganjil adalah bilangan yang tidak habis dibagi 2. Bilangan ini memiliki format 2n + 1 untuk n bilangan bulat. Contoh: -5,-3,-1,1,3,5.

Bilangan Genap adalah bilangan yang habis dibagi 2. Bilangan ini memiliki format 2n untuk n bilangan bulat. Contoh: -6,-4,-2,0,2,4,6,8.

Bilangan Prima adalah bilangan asli yang lebih besar dari satu, dimana bilangan tersebut hanya habis dibagi 1 dan bilangan itu sendiri (hanya memilki 2 faktor). Contoh: 2,3,5,7,11.

Bilangan Komposit adalah bilangan asli yang lebih besar dari satu, yang tidak termasuk bilangan prima (memiliki lebih dari 2 faktor). Contoh: 4,6,8,9,10.

Makalah Kunci Sukses Pelajar Mahasiswa 

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sebagai makhluk Allah yang paling sempurna, manusia memiliki proses perjalanan hidup yang panjang, kehidupan di dunia ini merupakan satu-satunya kesempatan untuk mengumpulkan bekal menuju alam akhirat. Dan sebaik-baik bekal adalah takwa, namun disisi lain manusia harus benar-benar pandai memanfaatkan kesempatan yang terbatas itu untuk kepentinga masa depannya.
Oleh kerena itu, sebagai langkah awal mencari bekal di dunia maupun akhirat, kita perlu mengetahui Hadits Tentang kunci sukses mahasiswa dalam persfektif hadits
Bagaimana Konsep Siswa/pelajar, peserta didik dalam hadits?. Mengingat bahwa hadits bukan buku yang secara spesifik membahas pendidikan, maka istilah yang merujuk pada pelajar dan yang semakna dapat ditarik dari hadits-hadits yang mengarah pada upaya menuntut ilmu dalam hadits, di antaranya adalah:
1.      Siswa/pelajar/mahasiswa adalah “”thoolibu al-‘ilmi (penuntut ilmu), sebagai penuntut, maka para penuntut harus menempuh jalan-jalan yang membawanya untuk menuntut ilmu, baik berupa do’a, ikhtiyar dan included di dalamnya etika, moral dan sebagainya. Misalnya dalam sebuah hadits disebutkan: Thalabu a-‘ilmi fariidhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin.
2.      Penuntut ilmu adalah orang yang membangun irodah untuk mencari kebahagaiaan (sa’aadah fi al-daarain). iraadah secara bahasa berarti kemauan. Kata ini derivasi dari araada-yuriidu-iraadah, orang yang membangun iraadah tersebut disebut pelaku (subyek) atau faa’il (Bahasa Arab) yang disebut dengan “muriiidun”. Sehingga pelajar juga disebut muriidun karena merupakan orang yang membangun iradah untuk meraih kesuksesan duniawi ukhrawi melalui ilmu yang bermanfaat. Dalam hadits disebutkan: Man araada al-‘dunya fa’alaihi bi al’ilmi wa man araada al-akhirata fa’alaihi bi ‘al-ilmi wa man araadahuma fa’alaihi bi al-‘ilmi (orang yang ingin dunia hendaknya dengan ilmu, ingin akhiratpun dengan ilmu, dan menginginkan keduanya juga dengan ilmu)
Sebuah catatan penting yang berkaitan dengan istilah muriidun adalah muridun yang dikaitkan dengan manusia atau insan-insan penuntut ilmu dengan muriidun dalam sifat wajib bagi Allah. Muridun dalam sifat dua puluh adalah sifat wajib bagi Allah Yang Maha berkehendak. Sedangkan dalam konteks penuntut ilmu adalah muridun yang ingin mencapai kesuksesan dunia akhirat sesuai perintah Allah dalam al-Qur’an seperti yang termaktub dalam Surat Al-Qashas ayat 77:
Artinya:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (Al-Qashas :77).
3.      Penuntut ilmu adalah saalik yang merupakan isim fa’il dari salaka-yasluku yang berarti “penempuh/yang menempuh jalan”. Jalan yang ditempuh adalah jalan untuk menuntut ilmu. Hal ini berdasarkan hadits seperti yang tertulis dalam bab sebelumnya yang mengatakan: man salaka thaariiqan yabtagy fiihi ‘ilman sahhalallahu thariiqan ila al-jannah (orang yang mennempuh jalan untuk menuntut/mencari ilmu akan dipermudah jalannya ke surga ).
Namun, istilah saalik kurang lazim di telinga, tidak selazim kata “thoolib” ataupun murid, sitilah saalik biasanya digunakan dalam penuntut ilmu rohani seperti tasawuf ataupun thoriqat dan lainnya.

B.     Rumusan Masalah
Masalah yang dapat penulis rumuskan agar pembahasan dalam makalah ini dapat tersusun secara lebih sistematis dan terarah adalah sebagai berikut :
1.      Apa Pengertian Kesuksesan?
2.      Apa Saja Kunci Sukses Mahasiswa/Pelajar secara global?
3.      Apa Saja Kunci Sukses Belajar Mahasiswa/Pelajar?
4.      Adakah Masalah yang menghalangi kesuksesan?

C.    Metode Penulisan Makalah
Metode penulisan yang penulis gunakan dalam menyusun makalah ini adalah library research, yakni penelitian dari berbagai literatur-literatur baik yang bersumber dari buku-buku perpustakaan maupun dari jaringan internet ataupun pemikiran penulis.

D.    Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Sebagai pemenuhan tugas terstruktur mata kuliah Hadits pada Fakultas Tarbiyah (Matematika) Semester III Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram Tahun 2012.
2.      Sebagai inisiatif dalam memperkaya khazanah ilmu pengetahuan berdasarkan ilmu pengetahuan dan kemampuan yang penulis miliki didukung oleh literatur relevan dan orang-orang yang kompeten di bidangnya.



BAB II
PEMBAHASAN

Sukses sering kita dengar di telinga kita, tetapi terkadang kita bingung apa sebenarnya yang dimaksud sukses itu. Karena kata sukses itu masih global, tergantung mau dibawa ke arah mana sukses yang kita inginkan. Ada yang beranggapan sukses itu dapat menjalankan segala kegiatan dengan berhasil. Apakah hanya itu saja ?
Ada satu anggapan yang sangat penulis sukai, “SUKSES bukan orang pintar dan kaya raya, Tetapi sukses adalah orang yang dapat membagi ilmunya untuk orang lain. Dan menjadikan orang lain berhasil dengan ilmu yang dia ajarkan”.
Disini penulis akan membagi 4 kunci sukses untuk Mahasiswa Pelajar atau kunci sukses secara global dan 5 kunci sukses belajar Mahasiswa Pelajar secara khusus.
A.    Empat Kunci Sukses Untuk Mahasiswa/Pelajar secara Global
1.      Luruskan Niat
Niat atau tujuan ini amat menentukan hasil yang akan kita peroleh.  Seperti sabda Rasulullah SAW :
 إنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ : Sesungguhnya setiap amalan hanyalah tergantung dengan niat-niatnya.[1]
Kalau niat atau tujuan belajar hanyalah sekedar memperoleh ijazah dan gelar, Anda akan memperoleh kedua hal itu (tapi belum tentu Anda memperoleh kompetensi yang diperlukan untuk bekerja dan bermanfaat di masyarakat).  Kalau niat atau tujuan belajar Anda adalah untuk memperoleh kompetensi, biasanya Anda tidak akan berhenti berusaha sebelum Anda memperoleh kompetensi itu.
Untuk bisa berhasil di perguruan tinggi diperlukan komitmen yang tinggi dan kerja keras.  Oleh karena itu, Anda harus amat yakin tentang pentingnya pendidikan tinggi bagi masa depan Anda.
ü  Anda harus memiliki alasan yang jelas mengapa Anda belajar di perguruan tinggi.
ü  Tetapkan tujuan spesifik yang ingin Anda capai.
ü  Ketahuilah apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan ini.
ü  Pastikan bahwa tujuan Anda konsisten dengan minat dan kemampuan Anda.
ü  Bersikaplah fleksibel, ubahlah tujuan Anda jika perlu berdasarkan pengalaman selama perjalanan Anda belajar di perguruan tinggi.

2.      Do’a Dan Usaha: Kunci Sukses Penuntut Ilmu
Do’a adalah sebuah permohonan. Kata do’a berasal dari bahasa Arab. Kata tersebut merupakan mashdar dari kata da’a-yad’u- du’aa .Do’a adalah otaknya ibadah (al dua’u mukhhu al-‘ibaadah). Do’a pula merupakan salah satu indikasi seseorang percaya kepada yang Maha Ghaib yaitu Allah SWT. Karena itulah, do’a dianggap sebagai silaahun (senjata) kaum mukmin. Mengapa?. Karena kaum atheis (mulhid) yang mendewakan rasio hanya mejadikan yang kasat dan rasional sebagai tolak ukur setiap aktivitas yang dilakukannya tanpa mengkomunikasikannya dengan yang Maha Pencipta bagi kaum mukmin yaitu Allah SWT. Jadi, Do’a adalah potret pengakuan hamba akan ketergantungan dirinya pada Allah, potret hamba yang selalu mengharap ampunan Allah karena merasa selalu bersalah dan berupaya untuk melakukan terbaik dengan tetap mengharap ampunan Allah SWT.
Adapun Hadist tentang doa dan contoh-contohnya, yaitu :



a.      Do’a dan usaha selamat dari penyakit malas, pengecut, pelit dan sebagainya
Do’a ini patut dibaca oleh siapapun, sebab (misalnya penyakit malas) adalah penyakit yang tidak jarang menjangkiti pelajar/mahasiswa bahkan guru ataupun dosen sekalipun.
  عَنْ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah SAW mengucapkan, Allaahumma innii a'udzubika minal 'ajzi wal kasali wal jubni wal bukhli wal haram wa a'udzu bika min 'adzaabil qabri wa a'udzu bika min fitnatil mahya wal mamaat (Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah, malas, pengecut, kikir dan pikun. Aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah  kehidupan dan kematian)'" (H.R. Abu Daud, No. 1540)
b.      Berdoa agar selamat dari empat hal: ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang labil tidak khusu’, jiwa yang rakus dan do’a yang tidak dikabulkan (berdoa’ di atas do’a).
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْأَرْبَعِ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ
Artinya:
Dari Abu Hurairah, dia berkata, "Rasulullah SAW mengucapkan, 'Allaahumma inni a'udzu bika minal arba'i min illmin laa yanfa'u wamin qalbin laa yakhsya'u wamin nafsin laa tasyba'u wa min du'aain laa yusma'u (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari empat perkara, yaitu: Dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu, dari jiwa yang tidak pernah kenyang (rakus), dan dari doa yang tidak dikabulkan) "(H. R. Abu Daud No.  1548.)
Yang menarik dari bagian do’a di atas adalah :
1)      Menurut hemat penulis terdapat ad- duaa’u ‘ala adduaa’i  yaitu berdoa’ dalam do’a. Ketika menyebut (berdo’a) apa yang kita inginkan, lalu kita mendoakan “do’a” kita agar bisa dikabulkan. Subhanallah, sebuah teladan yang patut kita amalkan dari do’a Rasulullah SAW.
2)      Hadits di atas juga mengajarkan kita untuk memohon agar diberikan ilmu yang bermanfaat. Indikator ilmu yang bermanfaat (di antaranya) adalah selalu bertambah (ziyaadah) dan membawa kebaikan (al khair) sehingga terkenal istilah barokah yaitu: ziyadatu al-khairi (tambahan kebaikan)
3)      Hadits di atas mengajarkan kita untuk memohon agar diberikan hati yang khusu’ serta jauh dari jiwa yang tak pernah puas (rakus). Jika rakus dalam kebaikan/ibadah, ingin terus dan terus ibadah sambil bekerja itu tidak masalah. Tetapi jika rakus dalam urusan dunia, maka inilah yang seringkali mengarah pada sikap yang tidak pernah puas, lupa bersyukur dan pada ujungnya menjadi budak bagi dirinya sendiri.

3.      Bersungguh-Sungguh
Bersunggug-sungguh, atau kita kenalnya dengan untaian kata-kata indah “Man Jadda Wajada”  : Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil. Segala sesuatu yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, Insyallah akan berhasil. Bagaimana kita bersikap sungguh-sungguh dalam mencapai cita-cita kita ? Kita ambil contoh cita-cita jadi Programmer, apa yang kita lakukan dengan cita-cita itu? Kita harus mempunyai ilmu per-Kodingan, caranya adalah dengan belajar. Belajar dengan sesungguh-sungguhnya, mulai dari teori dan prakteknya. Karena jadi programer harus pintar dan juga analisa yang bagus, kalau tidak pintar nanti bisa-bisa salah dalam penentuan alur sebuah program. Programnya tidak sesuai dengan yang diinginkan[2].

4.      Sabar dan Berprasangka Baik (Khusnudzon)
Sabar adalah sebuah keindahan (al shobru jamiilun), tidak ada yang lebih mudah dari sabar kecuali mengucapkannya.  Mengucapkan sabar itu mudah, menerapkannya sulit. Ada juga yang menganalogikan shabar  (sabar)dengan shabir (semacam obat).[3] misalnya:
الصبر كالصبر مرّ فى مذاقته لكن عواقبه أحلى من العسل
(Asshobru ka al-shabiri murrun fi madzaqatihi, laakinna ‘awakibuhu ahla min al-‘asali)
Sabar itu bagaikan obat, pahit rasanya, tapi dampaknya lebih manis dari madu
Dalam Al-Qur’an AL-Baqarah (2) ayat 45 disebutkan:
Artinya:
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,
Hal yang mirip ditemukan dalam Al-Qur’an AL-Baqarah (2) ayat 153:
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Ada pula yang mengartikan: mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.
Dalam surat Al-Kaffi: 18:28 disebutkan peringatan tentang orang yang sabar:
Artinya:
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.
Memang, seperti dalam pepatah arab disebutkan bahwa orang yang sabar pasti akan beruntung:
ظفر صبر من
(man shobara zhofira)
Orang  yang bersabar, akan beruntung
Bersikap sabar dalam menggapai cita-cita itu perlu dan wajib. Karena untuk mencapai sesuatu yang baik, harus didahului dengan niat dan perasaan yang baik pula. Kita harus senantiasa ber Husnudzon kepada Allah, karena segala sesuatu adalah atas Ridho Allah. Kita ambil contoh, saat kita berbisnis membuka usaha perdagangan. Apakah bisnis itu langsung besar dan dipercayai banyak orang ? Tentu jawabannya adalah TIDAK, karena untuk menjadi besar ada tahapan-tahapan yang harus dilalui, entah itu toror, komplai, dll. Kita harus senantiasa ber Husnudzon kepada Allah, ‘Ini adalah Jalan Untuk Membuat Saya Jadi Besar, Thanks Allah’.

B.     Kunci Sukses Belajar Mahasiswa dan Pelajar
1.      Zaka’ atau cerdas.
Kata cerdas bukan hanya simbol orang yang ber IQ tinggi. Karena itu hanya bagian dari kecerdasan. Di samping  IQ (intellectual quotient), ada EQ (emotional Quotient) dan SQ (Spritual Quotient). Apa gunanya IQ tinggi kalau egois dan tidak bisa mengambil simpati/bersahabat dengan yang lain.  Harus ada balance karena:
a.       Jika hanya IQ yang tinggi, banyak orang yang sok tau, ke pedean, terkadang egois (selfish) atau kebanyakan bahasa “akunya” bahkan lebih senang debat daripada kerja
b.      Jika EQ yang tinggi, tanpa IQ juga berbahaya, karena terlalu pandai mengambil simpati orang, maka dikhawatirkan terjadi KKN.
c.       Jika SQ yang tinggi, maka orang akan lebih senang ibadah daripada kerja. Padahal kerja adalah bagian daripada ibadah juga. Dan kecerdasan spritual (SQ) dibangun oleh IQ serta EQ harus ditopang oleh IQ dan SQ. Ketiganya hanya bisa dibedakan tetapi sulit dipisahkan bila mengharapkan pribadi yang mau dan mampu menjadi pfofesional da proporsional.

2.      Hirsun/ semangat yang tinggi.
 Semangat yang tinggi membuat orang menjadi mau dan mampu. Karena yang utama bagi penimba ilmu adalah semangat. Ibarat orang yang cinta, jauh terasadekat, sulit terasa mudah, sehari terasa satu jam dan sebagainya. Semuanya itu karena rasa senang atau semangat yang tinggi. Bayangkan jika rasa senang/semangat tinggi tersebut ditransfer kepada cara belajar. Maka kemauan dan kemampuan akan berjalan seiring, selaras, seayun untuk membentuk pribadi yang kompeten dan responsible. Selanjutnya, hirshun ini berkaitan sekali dengan rasa ingin tahu (curiousity) yang dimiliki siswa.
Dalam pernyataan di atas, terselip kata mau dan mampu (willingness and ability). Mengapa, hal ini karena:
a.       Banyak orang yang mampu tetapi tidak mau
b.      Banyak yang mau, tetapi tidak mampu
c.       Yang kita inginkan adalah yang mau dan mampu dengan membangun hirsun (semangat) ataupun ghirah untuk menuntut ilmu.
Semangat yang tinggi salah satunya diwujudkan dalam bentuk bertanya (su’al) terhadap apa yang tidak diketahui. Orang bijak mengatakan: Malu bertanya sesat di jalan. Selanjutnya, ketika di madrasah/pondok dulu para ustads sering mengucapkan: Al-su’alu miftaahu al-‘ilmi (bertanya adalah kunci ilmu).
Dalam matan Zubad disebutkan:
مَنْ لَمْ يَكُ يَعْلَمُ ذَا فَلْيَسْأَلِ
مَنْ لَمْ يَجِدْ مُعَلِّمًا َفليْرْحَلِ
 “Orang yang tidak tahu, hendanya bertanya
Jika tidak ada guru (tempat bertanya), hendaknya dia mencari (rihlah ilmiyyah)”

3.      Uang/Biaya.
Biaya memang diperlukan. Secara tekstual kata uang berarti biaya atau materi. Jika dikontekstualisasikan kata uang (bulghah) adalah manifestasi biaya baik berupa materi dan non materi. Dalam hal ini, ada kaitan antara biaya dengan semangat ataupun kesabaran di atas. Sebab, biaya materi, energi adalah hal penting penunjang kesuksesan para penuntut ilmu.

4.      Petunjuk Guru.
Siapa guru itu?. Guru adalah pendidik, bukan pengajar. Karena kalau pengajar bertugas hanya menyampaikan ilmu dari tidak tahu menjadi tahu. Beda halnya dengan pendidik yang sebenarnya. Pendidik adalah sosok yang digugu dan ditiru, dijadikan panutan dan teladan (uswah) baik ucapan, sikap ataupun perilakunya.  Orang bisa saja pandai ilmu pengetahuan dari browsing lewat google, yahu ataupun website lainnya. Tetapi, belum tentu bisa mendidiknya. Singkat kata, peran guru yang memberikan petunjuk (irsyaad) tidak akan pernah tergantikan oleh apapun walaupun berwujud Iptek tercanggih sekalipun.
Guru selanjutya bukan sebatas penyampai, tetapi juga membantu siswa untuk memfilter segala yang dipelajari. Dalam hal ini, kritik-kritik aliran kiri pendidikan, seperti PauloPreire ataupun Ivan Illich yang mengagungkan pendidikan dan pembebasan serta mengkritik banyak praktik pendidikan saat ini kurang relevan diterapkan dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan islam.
5.      Waktu yang panjang.
Waktu yang panjang sangat diperlukan dalam proses menuntut ilmu. Hal ini perlu digaris bawahi dua hal.
1.      Menuntut ilmu bukan hanya kewajiban, tetapi juga kebutuhan, sementara kebutuhan akan ilmu adalah sepanjag hidup kita. Setiap apa yang dilakukan tanpa ilmu itu mardud (ditolak). Ibarat sholat tanpa syare’at  yang benar maka tidak akan tercapai tujuan yang diinginkan. Ilmu adalah petunjuk agar ibadah kita diterima;
وكلّ من بغير علم يعمل
أعماله مردودة لاتقبل
 (setiap yang bekerja tanpa ilmu, pekerjaannya mardud /tidak akan diterima)
Dalam konteks ibadah, ada ibadah yang diterima (maqbuul) dan ditolak (marduud). Amalan ibadah kita akan diterima apabila dilaksanakan sesuai dengan syarat ataupun rukunnya. Tanpa syarat dan rukun yang benar, ibadah tidak akan diterima (marduudun). Agar syare’at ibadah berjalan sesuai ketentuan, maka yang perlu dilakukan adalah menuntut ilmu. Itulah mengapa, menuntut ilmu itu hukumnya wajib.
2.      Menuntut ilmu bernilai ibadah plus nafkah.
Selanjutnya, bila ilmu telah diperoleh, ilmu harus dimanifestasikan dalam bentuk amal dan pengamalan, karena ilmu disebut ilmu pada dasarnya berarti jelas atau tanda. Jelasnya suatu ilmu akan diketahui bila diikuti dengan amal dan pengamalannya. Amal untuk diri sendiri melalui praktik dan pengamalannya melalui pengabdian kepada yang memerlukannya.
العلم بلا عمل كا الشجر بلا ثمر
Ilmu yang tidak diamalkan, laksana pohon tak berbuah
C.    Masalah yang dapat menghalangi kesuksesan
Sebuah pepatah Arab mengatakan:
العبد حرّ إذا قنع * والحرّ عبد إذا طمع
(al ‘abdu hurrun iza qana’, Wal hurru ‘abdun izathama’ )
Seorang budak adalah majikan (bos) bila dia qana’ah, Dan seorang majikan (bos) adalah budak apabila dia serakah.
Ungkapan diatas mengajak kita untuk tidak serakah, tetapi qana’ah atau menerima apa adanya setelah kita berusaha. Dalam kutipan diatas, tergambar bahwa, seseorang yang selalu merasa kurang (serakah) atau tama’ tidak akan pernah merasa puas, maka ia akan menjadi budak bagi dirinya sendiri bahkan juga orang lain. Sebaliknya, seorang budak/hamba sahaya ataupun orang biasa yang membekali diri dengan sikap qana’ah, maka dia bisa mengendalikan dirinya sendiri dan pada akhirnya dia bukan diperbudak oleh keinginannya sendiri, tetapi ia adalah bos. Merasa nyaman, aman dan tidak merasa terkejar oleh apa yang membuatnya serakah.
Orang yang serakah biasanya terjebak oleh dirinya sendiri, yang dikejar tidak dapat, yang sudah didapat justeru berceceran. Dalam hal ini, perlu dibedakan dua hal yaitu:
Kebutuhan (need/al-haajah)
Keinginan (willingness/al-iraadah)
Sesuatu yang ideal adalah kita menginginkan sesuatu yang kita butuhkan. Jadi, we want because we need it (kita ingin karena kita memerlukannya). Namun yang sering terjadi adalah keinginan lebih tinggi dari kebutuhan. What we want is more than what we need (yang kita inginkan lebih dari yang kita butuhkan). Konsekwensinya adalah tidak jarang membuat orang lupa untuk mensyukuri apa yang telah diperolehnya. Sehingga ia selalu ingin, ingin dan ingin terhadap sesuatu yang belum tentu ia butuhkan.
BAB III
KESIMPULAN

A.    Kesimpulan
SUKSES bukan orang pintar dan kaya raya, Tetapi sukses adalah orang yang dapat membagi ilmunya untuk orang lain. Dan menjadikan orang lain berhasil dengan ilmu yang dia ajarkan.
Penulis Membagi 2 Macam kunci sukses bagi Mahasiswa/Pelajar, yaitu :
1.      Kunci Sukses Mahasiwa/ Pelajar secara global
a.       Luruskan Niat
b.      Do’a dan Usaha : Kunci Sukses Penuntut Ilmu
c.       Bersungguh-Sungguh
d.      Sabar dan Berprasangka Baik
2.      Kunci Sukses Belajar Mahasiswa/Pelajar
a.       Zaka’ atau Cerdas
b.      Hirsun atau Semangat yang tinggi
c.       Uang atau Biaya
d.      Petunjuk Guru
e.       Waktu yang panjang
Adapun hal atau sifat yang dapat menghalangi kesuksesan itu sendiri, yaitu Orang yang serakah yang bbiasanya terjebak oleh dirinya sendiri, yang dikejar tidak dapat, yang sudah didapat justeru berceceran. Dalam hal ini, perlu dibedakan dua hal yaitu:
1)      Kebutuhan (need/al-haajah)
2)      Keinginan (willingness/al-iraadah)

B.     Saran-saran
Sebagai mahasiswa perguruan tinggi Agama Islam, maka sepantasnyalah kita menggali lebih dalam lagi tentang berbagai ilmu pengetahuan tentang agama dan tidak pernah merasa cukup apalagi puas dengan hasil yang diperoleh, juga tidak berhenti hanya setelah berhasil menggali, tapi berusaha mendakwahkannya dan membimbing umat ke arah kemajuan dan kebenaran hakiki. Agar dapat menuju pintu kesuksesan dalam belajar. Sebab, masa kini adalah masa dimana umat Islam mengalami kemunduran di bidang ilmu pengetahuan, bahkan umat Islam sendiri mengalami pengikisan keilmuan tentang agama mereka sendiri, dan parahnya lagi kemerosotan tersebut diindikasi sudah merambat ke berbagai sisi kehidupan umat Islam.
Hal ini dapat dibuktikan dengan kemerosotan akhlak, penurunan tensi kegiatan-kegiatan keagamaan di berbagai tempat, beralih fungsinya tujuan ibadah menjadi tujuan duniawi, dan sebagainya. Maka kita menjadi tonggak yang harusnya paling kuat dalam menahan arus kemunduran umat ini. Tentu tidak bisa berdiam diri dengan berkutat dengan ketidakpedulian terhadap kondisi umat.


DAFTAR PUSTAKA
Sutikono, Sobry. 2008. Landasan Pendidikan. Bandung: Prospect.
Syah, Muhibbin. 2005. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.



[1] Sutikono, Sobry. Landasan Pendidikan. (Bandung: Prospect. 2008). Hal.39
[2] Syah, Muhibbin. Psikologi Belajar.( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2005).  Hal. 54
[3] Ibid. hal.55